Wartaspesial.com, Bandarlampung – Universitas Lampung (Unila) tengah menyusun Rencana Strategis (Renstra) terbaru dengan pendekatan Balanced Scorecard (BSC) sebagai kerangka utama untuk mengakselerasi pencapaian visi institusi.
Penyusunan Renstra ini dipimpin langsung oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, M.B.A., dalam rapat koordinasi yang berlangsung pada Senin, 23 Juni 2025 di ruang kerja.
Rapat ini dihadiri tim penyusun yang terdiri atas perwakilan dari Bagian Perencanaan Unila serta dosen-dosen lintas fakultas yang tergabung dalam tim pengembangan Renstra.
Prof. Ayi dalam pemaparannya menjelaskan, pendekatan Balanced Scorecard dipilih karena mampu menerjemahkan visi dan misi Unila ke dalam ukuran-ukuran strategis yang konkret, relevan, dan terukur di berbagai perspektif.
BSC dinilai cocok untuk perguruan tinggi berstatus Badan Layanan Umum (BLU) karena tidak berfokus semata pada aspek finansial, tetapi lebih kepada prosperity atau kemakmuran institusi secara menyeluruh.
“BSC memberi kita cara pandang yang lebih holistik. Kita tidak hanya bicara soal keuntungan, tapi juga bagaimana meningkatkan kapasitas institusi, mengelola sumber daya, serta memperkuat sinergi antara kinerja keuangan dan non-keuangan,” ujar Prof. Ayi.
Ia menguraikan setidaknya empat Perspektif utama Strategis Renstra Unila, yaitu Customer Perspective, Internal Business Process, Learning and Growth, dan Financial Perspective.
Ayi dalam hal ini menerangkan, walaupun bukan aspek utama, efisiensi dan efektivitas penggunaan anggaran tetap menjadi perhatian. Penekanan dilakukan pada efisiensi biaya dan keberlanjutan keuangan melalui pemanfaatan inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Prof. Ayi Strategi menekankan pentingnya cascading strategy dengan menurunkan indikator Renstra hingga ke tingkat fakultas dan unit kerja.
Indikator kinerja utama (IKU) yang disepakati akan menjadi bagian dari kontrak kerja pimpinan, dan evaluasi akan dilakukan secara berkala untuk memastikan ketercapaian target.
“BSC bukan hanya alat monitoring, tapi juga cara berpikir strategis. Kita harus pastikan semua unit memahami dan mengimplementasikan strategi dengan selaras, dari rektorat hingga fakultas dan program studi,” tegasnya.
Pendekatan ini juga mengedepankan akuntabilitas berbasis data, di mana seluruh pengambilan keputusan diarahkan untuk lebih terukur, transparan, dan terintegrasi dengan kebutuhan stakeholder, termasuk dalam skema kolaborasi pentahelix (akademisi, bisnis, pemerintah, komunitas, dan media).
Sebagai contoh konkret, Unila akan menyiapkan dukungan kelembagaan bagi para profesor dan guru besar agar dapat menjalankan peran akademik, penelitian, dan inovasi secara optimal, termasuk dalam pengembangan produk paten dan kontribusi pada ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy).
Melalui penerapan Renstra berbasis Balanced Scorecard, Unila meneguhkan komitmennya sebagai perguruan tinggi negeri yang unggul, akuntabel, dan berdaya saing tinggi baik di tingkat nasional maupun global (Rls).