Narasumber utama dalam kegiatan tersebut adalah Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, Prof. Yuli Rahmawati, M.Sc., Ph.D.
Prof. Yuli dalam paparannya menegaskan pentingnya memperkuat kemitraan strategis antara lembaga pendidikan tinggi Indonesia dan Australia.
Ia memaparkan berbagai peluang kerja sama di bidang pendidikan, penelitian, dan kebudayaan yang dapat mendorong internasionalisasi pendidikan Indonesia sekaligus mempererat hubungan antarbangsa.
Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 2.723 dokumen kerja sama antara perguruan tinggi Indonesia dan Australia, meliputi Memorandum of Understanding (MoU), Memorandum of Agreement (MoA), dan Implementation Agreement (IA).
Bentuk kolaborasi pendidikan mencakup berbagai skema, antara lain double degree, joint degree, sister school, student mobility, staff exchange, dan Collaborative Online International Learning (COIL).
Lebih lanjut, Prof. Yuli menyampaikan, peluang kerja sama juga terbuka luas di bidang penelitian dan inovasi melalui dukungan pendanaan dari berbagai lembaga seperti DFAT, KONEKSI, BRIN, dan Australia–Indonesia Institute.
Bidang riset prioritas meliputi energi terbarukan, pangan, air, dan pendidikan. Di sektor kebudayaan, kolaborasi diwujudkan melalui pertunjukan budaya, diplomasi bahasa, serta program Indonesian Goes to School yang mengintegrasikan Bahasa Indonesia dalam pembelajaran di sekolah-sekolah Australia.
Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, berbagai program beasiswa menjadi pendorong utama dalam memperkuat hubungan akademik kedua negara.
Program Australia Awards dan LPDP–Australia Awards Bundling Program menjadi skema utama bagi mahasiswa dan profesional Indonesia untuk melanjutkan studi di universitas terkemuka Australia.
Selain itu, terdapat pula Beasiswa Indonesia Bangkit, Beasiswa Garuda, serta berbagai program beasiswa daerah dan kementerian yang mendukung partisipasi pendidikan lintas negara.
Melalui inisiatif ini, KBRI Canberra turut mendorong terbentuknya center of excellence serta konsorsium pendidikan seperti Australia–Indonesia Teacher Education Consortium untuk memperkuat kapasitas guru dan riset pendidikan.
Program pengabdian masyarakat internasional dan visiting lecture yang dilakukan dosen-dosen Indonesia di Australia juga menjadi bagian penting dari diplomasi pendidikan yang berdampak langsung.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Sistem Informasi Unila, Prof. Dr. Ayi Ahadiat, S.E., M.B.A., menjelaskan, peluang kerja sama perguruan tinggi di Canberra diawali dengan diskusi kebijakan dalam rangka mendorong Unila menuju predikat dan kualitas World Class University.
Menurutnya, kegiatan seperti ini membuka banyak kesempatan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa untuk terlibat dalam jejaring akademik internasional.
Lebih lanjut ia menerangkan bahwa dengan semangat Kampus Berdampak, Universitas Lampung terus berkomitmen memperluas jaringan dan memperkuat kolaborasi internasional.
Melalui kerja sama pendidikan, penelitian, dan kebudayaan, Unila berharap dapat berkontribusi dalam mencetak generasi muda Indonesia yang unggul, adaptif, dan siap bersaing di tingkat global (Rls).

